Taman Untan
Lomba Blog Buda’ blogger

Pukul sepuluh pagi masih terasa sunyi kala pandemi menerpa kota ini. Saya menaruh tas beserta bawaannya di atas lantai yang kelihatannya cukup bersih, ditemani tumbler dengan kapasitas sekitar 1 liter. Biasanya riuh pikuk mahasiswa terdengar, namun kali ini saya hanya duduk seorang diri sambil menatap ke arah taman, syukurnya di sini ada WiFi gratis.

Sepuluh menit kemudian saya merasa bosan, ku buka laptop terbaik yang sudah menemani saya kurang lebih lima tahun belakangan ini. Saya mulai kepikiran, sepertinya di saat seperti ini menulis adalah waktu yang tepat. Kebetulan website ranggasaputra.my.id sudah lama tidak di-update.

. . .

Assalamu’alaikum, Oy buda’-buda’…
Perkenalkan name saye Rangga Saputra, akrab di panggel dengan name Rangga. Oh iye, memulai cerita saye kali ini, izinkan saye menggunakan bahase Indonesia jak ye agar lebih universal dan mudah dipahami teman-teman di luar sana.

Pagi itu saya membuka laptop lebih awal dari pada hari biasanya, memacu jari-jemari agar lebih cepat sambil sesekali melirik jam di dinding. “Ah asemmm, deadline hari ini dan semua belum kelar!”, gumamku sambil mengerutkan dahi sampai-sampai dinginnya pagi tidak dapat terasa sama sekali.

Ya saya seorang programmer, mengerjakan pekerjaan dengan dikejar waktu adalah sesuatu yang sudah biasa. Namun malangnya, kemarin saya kelelahan hingga melewatkan beberapa module yang harusnya diselesaikan pada malam harinya. Terpaksa demi mengejar target, waktu santai pagi tersita begitu saja.

Alhamdulillah kelar juga pekerjaan ini!”, saya tersenyum senang sambil mengirim module aplikasi tadi ke pusat data di kantor. Dendam dalam diri tiba-tiba hadir, tampaknya saya benar-benar butuh refreshing. “Kak, Dek, sabtu nanti kita cari tempat yang bernuansa alami, rindang dan bisa bikin tenang”, teriakku kepada kakak dan adik. “Siap”. Wisata bernuansa hutan di Kubu Raya menjadi pilihan kami. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari tempat wisata itu.

. . .

“Every day may not be good, but there’s something good in every day” – Alice Morse Earle.
“Setiap hari mungkin tidak baik, namun ada sesuatu yang baik di setiap hari”.

Semangat itu datang, saya membuka pintu sambil menghirup udara segar. Langit biru tak berawan, terang dan menyenangkan. Sabtu yang sempurna untuk sekedar melepas penat karena sibuk beraktifitas beberapa hari belakangan ini.

Ku pacu motor bebek bertenaga 110 cc dengan kecepatan sedang, sesekali melihat spion memastikan kakak dan adik saya tidak jauh ketinggalan. Ya mereka lambat banget.

Di sepanjang perjalan saya melirik ke kanan dan kiri, menikmati tanah kelahiran yang semakin kesini mulai tampak perubahannya. Wisata kano, ladang, pabrik, gerbang tua instagrammable dan pasar tradisional saya lewati semua. Saya masih berekspektasi tinggi dengan wisata hutan di Kubu Raya yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Tiba di sana ekspektasi tinggi saya pecah, “Ya udah, mungkin rezeki saya adalah tempat ini”.

Hutan Albazia
Salah Satu Wisata Hutan Kubu Raya. (Rangga Saputra)

. . .

Semangat traveling saya tidak pudar, selang beberapa minggu kemudian saya mengelilingi kota Pontianak. Lagi-lagi saya memacu motor bebek 110 cc namun kali ini dengan kecepatan yang tinggi. Sambil berpikir dan melihat di mana tempat yang ada wisata hutannya namun dengan nuansa yang sedikit modern. Sempat juga bertanya ke beberapa teman namun jawaban mereka hampir sama, “Kalau di daerah seperti Bengkayang sih banyak”.

Hmmmm sepertinya memang di Pontianak tidak ada wisata hutannya, yang ada hanya Taman Catur, Alun-alun Kapuas, Water Front, Taman Akcaya dan sejenisnya yang dibangun dengan konsep bukan alam yang mendominasi, namun gabungan konstruksi bangunan lebih dari 60% dan sisanya alami.

Sekali lagi saya masih bertanya apakah di Pontianak ada wisata yang benar-benar alami atau dominannya masih alam?

Semasa berkuliah dulu, kampus saya terletak di dekat Taman Untan, salah satu kampus favorit di Kota Pontianak. Hampir setiap hari masuk melewati Taman Untan dan pulang juga melewati tempat yang sama. Tidak pernah tahu bahwa kawasan itu adalah zona Wisata Taman Kota Pontianak. Saya hanya pernah jalan-jalan sambil menikmatinya saja tanpa memperdulikan namanya. Entah karena kurang piknik atau mungkin kebanyakan ngoding hehehe. Saya juga lupa kalau di arah selatan dan timur Tugu Digulis terdapat wisata hutan yang kadang menjadi tempat orang melakukan foto prewedding dan kegiatan outbound.

Setelah sadar bahwa kawasan Taman Kota Pontianak sangat luas meliputi Taman Untan, Taman Arboretum Sylva UNTAN, Taman Digulis dan Hutan Kota Pontianak, sayapun memarkirkan motor dan mencoba menjelajahi beberapa spot di sana.

. . .

Taman Kota terletak di Jalan Ahmad Yani, Pontianak area Bundaran Digulis. Taman ini menjadi destinasi wisata hiburan dan gratis bagi rakyat Pontianak maupun yang dari luar. Selain ruang terbuka hijau, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat olahraga, tempat nongkrong, belajar, bermain, makan dan pastinya tempat refreshing.

Peta Google Taman Kota Pontianak

#1. Mari mulai dari Taman Untan

Taman Untan berada persis di depan Fakultas Teknik Universitas Tanjung Pura dan sebelah Politeknik Negeri Pontianak, sebelah barat dari Tugu Digulis. Di dalamnya meliputi beberapa bagian, mulai dari area graffiti, skateboard, basketball, jogging track, taman rumput, ayunan, taman catur raksasa, tempat nongkrong dan lain sebagainya. Hampir di setiap spot memiliki kesannya tersendiri untuk diabadikan — instagrammable. Pada bagian luar taman banyak sekali jajanan kaki lima yang bisa teman-teman beli. Jangan tidak dibeli ya, hitung-hitung bisa membangkitkan perekonomian warga sekitar 😁. Serius enak-enak loh, ada pentol goreng, kuah dan bakar, sosis goreng dan bakar, keripik ubi, gorengan, es saset, es jeruk alami dan masih banyak jajanan ringan lainnya.

Jika teman-teman adalah orang yang berasal dari luar Pontianak, maka ada satu spot yang sangat khas yang bisa dijadikan pilihan untuk berfoto dan menggambarkan bahwa kamu sedang berada di Pontianak. Tempat itu ada di bagian luar, dinding beton tinggi berwarna-warni motif telok belanga bertuliskan “Pontianak Punye Cerite”.

Taman Untan
Bagian Depan Taman Untan. (Rangga Saputra)

#2. Taman Arboretum Sylva Untan

Di kawasan seluas 3,48 hektar, terdapat hampir 1000 spesies tumbuhan yang dikelola secara sengaja, ditanam dan dirawat selama lebih dari 30 tahun. Saya tidak tahu banyak tentang kawasan ini, yang jelas saya pernah berhenti di sini dan merasakan keasrian yang begitu luar biasa. Banyak sekali tumbuhan di sana, ruang terbuka hijau di area Universitas Tanjungpura Pontianak, sebelah selatan dari Tugu Digulis.

Taman Arboretum Sylva Untan. (Rangga Saputra)

Teman-teman bisa berfoto-foto di sini, tak jarang ada yang melakukan foto prewedding juga. Tempat ini bisa menjadi alternatif saya selain Taman Hutan Albazia di Kabupaten Kubu Raya. Namun untuk suasana malam, alangkah baiknya teman-teman tidak bersantai di tempat ini karena suasananya yang begitu sepi dan kurang mendukung, khawatirnya terjadi hal yang tidak diinginkan.

Untuk mengetahui lebih detail mengenai Taman Arboretum Sylva Untan, teman-teman bisa mengunjungi laman resmi dari website Fakultas Kehutanan Untan : https://fahutan.untan.ac.id/2020/10/ternyata-ini-sejarah-lahirnya-arboretum-sylva-untan-pontianak/

#3. Taman Digulis

Lokasinya terletak di sebelah timur Tugu Digulis., tempat yang paling tepat untuk menikmati keramaian kota karena view-nya langsung mengarah ke jalan dan bundaran Tugu Digulis. Tempat ini kerap kali dijadikan lokasi para aktivis untuk melakukan suatu acara, bahkan tidak jarang demonstrasi karena suatu isu juga terjadi di lokasi ini.

Sebagai seorang “mantan” mahasiswa dan aktivis, saya begitu bangga dengan tempat ini. Banyak kenangan yang terjadi disini, monumen Bambu Runcing (Digulis) menjadi saksi bisunya.

Semoga teman-teman yang bersantai di tempat ini, tidak hanya menikmati keindahannya saja, namun bisa mengambil esensi dari didirikannya monumen tersebut sebagai peringatan atas perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat.

Taman Digulis Mode Panorama. (Rangga Saputra)

#4. Hutan Kota Pontianak

Berbicara tentang hutan, maka tanah Borneo adalah salah satu “figure” yang sangat tepat yang menggambarkan betapa hutan sangat penting bagi kelangsungan makhluk hidup. Bahkan dunia mengakui bahwa Borneo adalah sebagai paru-paru dunia kan? Saya tidak berbicara bahwa Hutan Kota Pontianak seperti halnya hutan rimba pada umumnya, namun ini adalah hutan tropis yang dibuat di tengah kota.

Saya tidak begitu tahu bagaimana ihwal awal kehadiran Hutan Kota ini, namun jika diambil dari perspektif saya selaku orang awam maka saya bisa simpulkan bahwa bisa jadi tempat ini sebagai areal percontohan suatu program pelestarian lingkungan. Namun yang jelas, selain hutan di dalamnya juga ada spot yang bagus untuk teman-teman refreshing.

Terdapat jogging track, jembatan, kursi taman dan kantin yang lokasinya agak keluar dari Hutan Kota. Saya begitu asyik nongkrong bareng teman di sini sambil jogging karena tempatnya yang cukup kondusif dan teduh.

Hutan Kota Pontianak
Hutan Kota Pontianak. (Rangga Saputra)

#5. Bonus! Jogging Track Trotoar Ala Yogyakarka

Jika teman-teman pernah ke Yogyakarta maka tidak asing dengan trotoar yang sangat luas untuk para pejalan kaki. Namun jika diperhatikan ada hal yang unik di sana, salah satunya yaitu bola besar yang menambah keunikan kotanya.

Tidak perlu jauh-jauh ke sana, di Pontianak tepatnya arah barat dan barat laut dari Tugu Digulis terdapat jogging track yang menyerupai trotoar unik di Yogya. Sentuhan seni desain Telok Belanga khas Melayu yang dicampur dengan warna-warni cat menjadikan pemandangan di sini lebih eye catching. Area jogging unik ini termasuk salah satu yang baru dibuat beberapa tahun terakhir. Saya sangat mengapresiasi pemerintah dalam hal wisata Kota Pontianak.

. . .

Jari saya terasa pegal sekarang, “Ah sepertinya sudah cukup panjang saya mengetik cerita ini”. Semoga artikelnya dapat bermanfaat serta teman-teman dapat membayangkan bagaimana suasana wisata di Kota Pontianak.

Setelah saya berfikir lebih dalam, ternyata sedari awal saya sudah salah dalam membandingkan antara wisata yang pertama saya kunjungi dan yang saat ini saya tuliskan. Bagaimana mungkin saya membandingkan sesuatu yang baru dibangun dengan yang sudah maju, tentunya tidak adil. Ditambah lagi tempatnya yang relatif jauh dari pusat kota.

Saya meminta maaf apabila ada salah kata dalam penyampaian pada artikel kali ini. Saya tutup Wassalamu’alaikum Wr Wb, Selamat Pagi 😉.

[ Tutup Laptop ]

Rangga Saputra

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog Blogger Pontianak 2020 dan bekerja sama dengan rental mobil Pontianak

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *